Dalam Perbedaan Mana Yang Benar, Mana Yang Salah?

Setiap perbedaan, entah perbedaan pendapat atau perbedaan pilihan kadang dimaknai salah satunya ada yang benar, dan yang lainnya salah, apakah harus demikian?

Kita sering dihadapkan dengan pertanyaan, mana yang benar dan mana yang salah? Saat melakukan tindakan, kadang timbul pertanyaan, apakah yang kita lakukan termasuk hal yang benar, atau salah? Begitu pula saat kita mendengar perbedaan pendapat, hati kita pasti bertanya, mana yang benar dan mana yang salah?

Hampir semua di dunia ini selalu memiliki perbedaan. Ada yang berpendapat Tahlil itu boleh dan baik, namun ada pula yang berpendapat tahlil itu bid’ah. Ada yang bilang musik itu haram, dan ada yang bilang musik itu boleh. Dan masih banyak perbedaan yang lain, tidak hanya dalam bidang fiqh.

Dalam konteks sosio-kultural pun banyak kita temukan perbedaan. Seperti halnya, ada yang memilih bidang ekonomi harus diperkuat lebih dahulu, untuk menguatkan yang lain. Tetapi sebagian lainnya memilih mengutamakan pendidikan, karena yang lain bisa kuat dengan pendidikan terlebih dahulu.

Pada hal lain ada yang berpendapat, organisasi harus dibentuk untuk mempertahankan dan memperjuangkan sebuah visi. Namun ada pula yang menganggap organisasi justru menyempitkan perjuangan.

Kita tidak bisa terlepas dari perbedaan, karena perbedaan adalah bagian dari hidup. Jika setiap perbedaan harus kita pilih, mana yang benar dan mana yang salah, maka dunia ini begitu sempit. Karena setiap gerakan kita akan berada di sisi yang benar atau di sisi yang salah.

Apakah sesederhana itu kita memaknai perbedaan? Jika kita hanya berpikir dunia ini hanya ada benar dan salah, maka rasanya sulit sekali untuk menghindar dari permusuhan dan perpecahan. Karena dengan berpikir demikian, jika kita sudah merasa berada di sisi yang benar, maka kita akan menganggap orang yang berbeda dengan kita adalah salah. Jika demikian yang terjadi yang ada hanya saling menyalahkan satu sama lain.

Apakah manusia yang telanjang di keramaian adalah perbuatan yang salah? Jawabannya pasti tidak selalu salah. Karena jika manusia itu adalah anak kecil yang belum bisa berpikir, maka anak itu tidak salah.

Kita tidak patut untuk menganggap salah begitu saja kepada orang yang tidak suka dengan pendapat kita. Karena setiap perbedaan yang muncul pasti ada sesuatu yang melatarbelakanginya. Entah karena keadaan atau karena sumber referensi yang berbeda atau karena kepentingan yang berbeda.

Setiap perbedaan pilihan atau pendapat pasti disertai argumen dan alasan yang jelas, serta memiliki landasan yang kuat. Sehingga sah-sah saja untuk berbeda pendapat dan berbeda pilihan.

Kita bisa belajar dari perbedaan-perbedaan yang kita lihat. Kita tidak sadar, ternyata kita bisa cerdas karena ada perbedaan. Kita bisa pintar karena ada perbedaan, kita bisa kuat karena ada perbedaan.

Seperti halnya, perbedaan pandangan politik di negeri ini, memunculkan berbagai pandagan politik dan kelompok masyarakat. Namun, hikmah yang kita peroleh, dengan adanya perbedaan tersebut, akhirnya menimbulkan kompetisi. Saling berlomba untuk memberikan yang terbaik untuk negeri ini. Fastabikul khairat

Perbedaan bisa memicu perdebatan, seperti dalam acara debat kandidat kontestan calon pemimpin daerah, debat dalam sebuah acara reality show, debat dalam forum bahstul masail. Semua perdebatan itu terjadi karena adanya perbedaan pandangan, namun untuk memproleh hal yang terbaik. Akan tetapi dari perdebatan itu justru memunculkan sebuah pengetahuan baru, ilmu baru bagi peserta debat maupun yang mendengarkan. Dengan perbedaan pula kita bisa semakin kuat karena kita akan selalu belajar agar menjadi yang terbaik. Dengan demikian kadang perbedaan bisa semakin membuat kita pintar dan cerdas, jika kita bisa menyikapi dengan positif. Tanpa harus membesar-besarkan mana yang salah dan mana yang benar.

Mari kita pahami bersama perbedaan yang terjadi di sekitar kita, sehingga menjadi sebuah rahmat bagi kita. Dan jadikan setiap persamaan menjadi sebuah kekuatan. Sehingga kita dapat mendapatkan yang terbaik untuk lingkungan dan diri kita.

This entry was posted in Artikel, Khazanah and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s